“Anak adalah peniru ulung. Para orang tua wajib berhati-hati”, demikian salah satu hal yang sering disampaikan oleh para pakar maupun pemerhati parenting.  Tentu saja, hal ini memang benar adanya. Anak ibarat spons, mereka siap menyerap apa saja dan meniru siapa saja karena mereka belum memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Anak adalah peniru ulung karena semua yang tertangkap oleh panca indranya merupakan  cara dia belajar. Bila anak melihat dan mendengar yang baik-baik saja,  akan baik pula perangainya. Sebaliknya, bila melihat dan mendengar yang buruk, akan buruk pula tingkah laku dan peragangainya.

Pilihan Editor:

Kisah yang Membenarkan bahwa Anak Adalah Peniru Ulung

Dikisahkan, ada seorang anak yang tinggal bersama ibu dan neneknya. Setiap hari, anak itu melihat neneknya diperlakukan buruk oleh ibunya. Neneknya senantiasa diberi makanan yang merupakan sisa makanan ia dan ibunya. Ibunya juga seolah tidak terlalu peduli bila neneknya memanggil untuk meminta bantuan.

Anak yang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar dan mengetahui seperti apa seharusnya memperlakukan orang tua, mulai merasa iba setiap kali melihat neneknya. Namun,  dia hanya bisa diam setiap kali ibunya mengambilkan makanan untuk neneknya di piring kaleng. Alasan ibunya memberikan piring kaleng agar piring tidak pecah saat dipakai neneknya.

Si anak pun tak bisa protes saat melihat ibunya memberi minum neneknya dari gelas plastik yang kusam dan terlihat buruk. Selimut untuk neneknya juga selimut tipis yang sangat tidak layak untuk orang tua. Si anak tak berdaya apa pun karena setiap kali hendak mengingatkan ibunya, perempuan yang telah melahirkannya itu selalu membentak dan bicara kasar.

Sampai suatu hari, dengan penuh rasa percaya diri dan tidak ada sedikit pun rasa takut, si anak pergi ke pasar. Dengan uang tabungannya, dia kemudian membeli piring kaleng, gelas kusam, dan selimut tipis yang sangat buruk. Ketiga barang tersebut kemudian diletakkannya di atas meja dapur.

Ibunya yang melihat hal tersebut kemudian bertanya keheranan,”Untuk apa barang-barang ini kamu beli? Ini seperti punya nenek.”

“Iya, Bu. Aku baru saja beli di pasar. Aku beli untuk ibu kalau sudah tua nanti. Aku akan berbuat yang sama sebagaimana ibu memperlakukan nenek,” jawab anak itu dengan berani. Ia pun sudah siap jika harus  dimarahi dan dibentak ibunya.

Namun, di luar dugaan, ibunya malah jatuh terduduk di kursi dengan tatapan pilu. Hatinya bagai teriris. Seketika ibunya berlari menemui neneknya. Menangis di kaki neneknya dan meminta maaf dengan penuh kesungguhan. Isaknya terdengar pilu, tetapi neneknya terus terpejam. Ternyata, neneknya telah meninggal dunia. Ibunya tidak sempat meminta maaf atas semua perilaku buruknya kepada nenek.

Baca Juga:

Jadilah Role Model yang Baik Karena Anak Adalah Peniru Ulung

Dari kisah di atas, Sahabat bisa melihat bagaimana seorang anak yang ingin meniru perbuatan ibunya. Karena si ibu telah memperlakukan si nenek dengan buruk, si anak pun berkeinginan untuk melakukan hal yang sama pada ibunya kelak jika si ibu telah tua.

Mampir, yuk

Dilema Melatih Kemandirian Anak

Demikianlah kenyataannya bahwa setiap kebaikan dan keburukan bisa ditiru dengan mudah oleh anak. Semoga artikel ini bisa menjadi pengingat kita sebagai orang tua untuk senantiasa berlaku lurus dan baik agar kelak anak-anak tumbuh menjadi teladan bagi siapa saja dan menjadi anak saleh dan salihah yang kelak menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here