Rasanya, dalam hidup ini sangat sulit menemukan orang yang tidak pernah berutang. Terkadang, kita terpaksa harus berutang agar bisa keluar dari permasalahan yang dihadapi. Seyogyanya, utang hanya dilakukan dalam keadaan darurat. Dan, jangan pernah menganggap enteng sekecil apa pun utang tersebut.

Sayangnya, ada juga orang yang justru menjadikan utang sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang buruk, tentunya. Padahal, utang yang dilakukannya hanya demi untuk menutupi kebutuhan yang tidak terlalu penting. Tanpa berutang, ia masih bisa menjalankan kesehariannya sebagaimana biasanya.

Belum lagi urusan tagih menagih, nantinya. Tak jarang, urusan utang piutang berakhir tidak menyenangkan, bahkan sampai ke meja hijau. Yang berutang tiba-tiba raib entah kemana, mendadak amnesia dan yang paling parah, yang paling parah mendadak galak melebihi anjing herder. Si empunya piutang mendadak menjadi pihak yang kesakitan. Kini, ia yang harus memohon agar haknya segera dikembalikan.

Hal-hal seperti itulah yang bisa membuat hubungan baik menjadi buruk. Hubungan persahabatan, kekerabatan bahkan kekeluargaan menjadi terburai berantakan. Hal yang terjadi karena adanya pihak-pihak yang tidak memperhatikan adab-adab dalam berutang.

Berikut 7 adab berutang yang harus diperhatikan agar urusan utang piutang tak jadi badai di kemudian hari.

1. Mencatat Utang Piutang

Sekecil apa pun utang, memang sudah seharusnya dicatat. Apalagi, manusia adalah tempatnya lupa. Dengan catatan, seseorang akan kembali diingatkan akan kewajibannya.  Perintah mencatat utang piutang juga telah disebutkan dalam Al Quran, Surah Al Baqarah ayat 282 yang artinya:

Wahai orang-2 yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.”

Mencatat utang juga diperlukan untuk menghindari perselisihan sekiranya di belakang hari timbul perselisihan.  Pencatatan utang juga dapat menjadi barang bukti di pengadilan jika urusan ini berlanjut ke meja hijau.

2.Berutang dengan Niat Melunasinya

Siapa saja yang berutang, sedang ia berniat tidak melunasi utangnya, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat sebagai seorang pencuri” (HR Ibnu Majah)

Seseorang yang berutang namun sebenarnya tak ada niatnya untuk membayar utangnya itu diibaratkan dengan pencuri. Pencuri adalah orang yang mengambil hak orang lain. Maka orang seperti inipun dikategorikan sebagai pencuri karena tak mau mengembalikan hak orang lain.

3.Tidak Menunda Pembayaran Utang

Jangan pernah menunda-nunda pembayaran utang, bahkan sedianya pembayaran utang tersebut dipercepat meski belum jatuh tempo. Percepatan pembayaran utang tentu akan menggembirakan pemberi utang. Dengan demikian hubungan baik antara kedua belah pihak dapat tetap terpelihara. Dan bisa jadi di kemudian hari, sekiranya orang ini ingin meminjam uang kembali maka si pemberi utang tidak akan segan-segan untuk memberikannya.

“Menunda-nunda (bayar utang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman.” (HR Bukhari)

4. Tidak Meremehkan Utang

Sekecil apapun utang, haruslah tetap dibayar dan dilunasi. Jangan pernah menganggap remeh utang sekecil apapun.

“Jangan kalian buat takut diri kalian setelah rasa amannya.”

Mereka mengatakan: “Apa itu, ya Rasulullah?”

“Utang,” jawab beliau. (HR. Ahmad)

5. Menyadari Besarnya Risiko Berutang

Agar tidak menjadikan utang sebagai satu kebiasaan, setiap kita seharusnya  mengetahui akan besarnya resiko berutang. Banyak hadits yang telah menyebutkan resiko-resiko tersebut. Salah satunya adalah…

“Barangsiapa mati dan masih berutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR Ibnu Majah)

6. Mendoakan Orang yang  Memberi Pinjaman

“Barang siapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak menemukan apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya sampai engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya.”  (HR An-Nasa’i dan Abu Dawud)

Seseorang yang telah memberi pinjaman sesungguhnya telah berbuat baik. Karenanya, mendoakannya termasuk hal yang dianjurkan sebagaimana disebutkan pada hadits di atas.

7. Menjadikan Utang Sebagai Solusi Terakhir

Kebiasaan berutang bukanlah kebiasaan yang baik. Biasakan untuk menjadikan utang sebagai solusi terakhir di saat semua usaha telah ditempuh. Jangan jadikan utang alternatif pertama. Karena berutang mengandung resiko yang sangat besar.

Demikian 7 adab berutang yang harus diperhatikan serta ketentuan berkaitan dengan utang. Semoga kita semua dijauhkan dari utang dan yang sedang mempunyai sangkut paut utang segera diberi kemudahan untuk melunasinya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here