Dalam sejarah umat Islam, banyak sekali tokoh berpengaruh yang namanya tercatat dengan tinta emas. Salah satu nama yang selalu dikenang  adalah Ummu Sulaim binti Milhan. Beliau adalah sosok muslimah teladan sepanjang masa yang namanya senantiasa harum dan keteladannya senantiasa dikenang dan dijadikan panutan.

Siapakah Ummu Sulaim binti Milhan

Para ulama dan sejarawan berbeda pendapat tentang siapakah nama asli Ummu Sulaim. Ada yang mengatakan Rumaysho,  Sahlah, Rumailah, Unaifah, ataukah Mulaikah. Namun,  beliau dikenal dengan  julukan Rumaisha atau Ghumaisha’.

Ummu Sulaim menikah dengan Malik bin Nadhar dan melahirkan seorang anak yang merupakan salah satu sahabat  yang utama, yakni  Anas bin Malik. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu Sulaim, beliau pun segera menyambutnya. Qadarallah, ketika Ummu Sulaim menyampaikan indahnya Islam kepada suaminya, Malik bin Nadhar justru marah bahkan meninggalkan Ummu Sulaim. Malik bin Nadhar kemudian pergi ke negeri Syam dan meninggal dunia di negara tersebut tanpa sempat memeluk Islam.

Ummu Sulaim adalah seorang wanita yang berparas jelita dan cerdas. Selain itu, beliau juga terkenal dengan sifatnya yang penyabar dan pemberani. Sifat-sifat tersebut diturunkan kepada Anas bin Malik. Tak heran, bila kemudian Anas tumbuh dan menjadi salah seorang sahabat utama.

Beliau termasuk salah seorang penghuni surga. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Jabir bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Ketika aku masuk jannah, tiba-tiba aku melihat di sana ada Rumaisha’, istri Abu Thalhah.” (HR. Al-Bukhari).

Juga dalam sebuah hadits dari Anas, disebutkan bahwa ketika masuk jannah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara terompah seseorang. “Suara siapa ini?” tanya beliau. Kata para malaikat, “Itu suara Ghumaisha’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim).

Plihan Editor:

Mahar Terindah

Setelah Ummu Sulaim radhiyallaahu `anha menyelesaikan iddahnya, datanglah Abu Thalhah hendak meminang Ummu Sulaim. Namun Ummu Sulaim mengatakan, “Wahai Abu Thalhah, engkau adalah seorang yang kaya dan terpandang, orang seperti engkau tidak akan ditolak lamarannya. Hanya saja engkau adalah seorang yang belum beriman (baca: kafir), sedangkan aku adalah seorang muslimah, dan aku tidak akan menikah dengan seorang yang masih kafir”.

Abu Thalhah berkata, “Wahai Ummu Sulaim, sebenarnya apa yang engkau inginkan? Apakah engkau menginginkan mahar dari emas dan perak?”

Ummu Sulaim menjawab, “Tidak, aku tidak berharap emas dan perak darimu, tetapi aku hanya berharap padamu agar engkau masuk Islam. Jika engkau masuk Islam, itulah maharku. Aku tidak meminta mahar selainnya.”

Abu Thalhah berkata, “Kepada siapa aku mengikrarkan keislaman?”

Ummu Sulaim menjawab, “Temuilah Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam dan ikrarkan keislamanmu kepada beliau”.

Berangkatlah Abu Thalhah menemui Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam, kala itu Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Tatkala Rasulullah melihat Abu Thalhah, Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya, “Telah datang Abu Thalhah dan aku melihat cahaya keislaman di antara kedua matanya”.

Abu Thalhah menceritakan kepada Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam maksud kedatangannya, hingga akhirnya Abu Thalhah pun menikah dengan Ummu Sulaim (HR. An-Nasa`i).

Itulah mahar terindah dan teragung sepanjang masa. Bukan mahar berupa emas dan perak, sebagaimana yang bisa diberikan calon pengantin pria. Namun, Ummu Sulaim memilih mahar berupa keislaman Abu Tholhah, mahar yang senantiasa dicatat dengan tinta emas sebagai mahar terbaik yang pernah ada.

Pilihan Editor:

Ketabahan Ummu Sulaim binti Milhan

Setelah menikah, Abu Tholhah dan Ummu Sulaim pun dikaruniai seorang anak. Qadarallah, anak tersebut kemudian sakit lalu meninggal dunia. Kisah saat Ummu Sulaim menyampaikan perihal ini kepada suaminya juga tercatat dalam sejarah.

Dari Anas, ia berkata mengenai putera dari Abu Tholhah dari istrinya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata pada keluarganya, “Jangan beritahu Abu Tholhah tentang anaknya sampai aku yang memberitahukan padanya.”

Diceritakan bahwa ketika Abu Tholhah pulang, istrinya Ummu Sulaim kemudian menawarkan padanya makan malam. Suaminya pun menyantap dan meminumnya. Kemudian Ummu Sulaim berdandan cantik yang belum pernah ia berdandan secantik itu. Suaminya pun menyetubuhi Ummu Sulaim.

Ketika Ummu Sulaim melihat suaminya telah puas dan telah menyetubuhi dirinya, ia pun berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, apakah tidak dibolehkan untuk diambil?

Abu Tholhah menjawab, “Tidak.”

Ummu Sulaim, “Bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.

Abu Tholhah lalu marah kemudian berkata, “Engkau biarkan aku tidak mengetahui hal itu hinggga aku berlumuran janabah, lalu engkau kabari tentang kematian anakku?

Abu Tholhah pun bergegas ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua dalam malam kalian itu.”

Akhirnya, Ummu Sulaim pun hamil lagi.  (HR. Muslim no. 2144).

Kisah di atas menggambarkan bagaimana kesabaran Ummu Sulaim. Bagi seorang wanita, kehilangan putera kesayangan tentulah sangat menyedihkan. Namun, Ummu Sulaim berhasil mengatasi dirinya, bahkan masih sempat memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya.

Demikianlah sepenggal kisah teladan muslimah, Ummu Sulaim bintu Malhan. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah hidup beliau.

Referensi:

muslimah.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *